Protes Petani Semprot Gedung Pemerintah Pakai Pupuk Kandang hingga Kirim Sampah
Laporan Solok – Protes Petani Semprot Gedung Aksi protes oleh kelompok petani di berbagai daerah kini semakin kreatif dan mencolok. Salah satu yang paling menghebohkan adalah aksi protes petani di Jakarta, di mana mereka melakukan demonstrasi dengan menyemprotkan pupuk kandang ke gedung-gedung pemerintahan dan mengirimkan sampah ke kantor-kantor pemerintah yang mereka anggap tidak peduli dengan nasib mereka. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan petani terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan sektor pertanian dan mengabaikan kesejahteraan mereka.
Petani Semprot Gedung Pemerintah dengan Pupuk Kandang
Pada 15 Desember 2025, sekelompok petani dari berbagai daerah di Indonesia melakukan aksi di depan Gedung DPR RI dan beberapa kantor pemerintahan di Jakarta. Aksi mereka dilakukan dengan cara yang sangat simbolis, yakni menyemprotkan pupuk kandang ke gedung-gedung pemerintah. Aksi ini dipilih sebagai bentuk sindiran terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada para petani.
Joko Susilo, salah satu koordinator aksi dari Komite Petani Nasional (KPN), menjelaskan alasan di balik tindakan simbolis ini. “Pupuk kandang adalah simbol dari tanah dan pertanian, yang selama ini telah kami rawat dengan keras. Namun, kebijakan pemerintah malah membuat kami semakin terpuruk. Kami berharap dengan aksi ini, pemerintah bisa lebih mendengarkan keluhan kami,” ujar Joko.
Para petani yang ikut dalam aksi tersebut datang dari berbagai daerah penghasil komoditas utama seperti beras, jagung, kedelai, dan sayuran. Mereka merasa bahwa kebijakan impornya produk pertanian, harga jual komoditas yang rendah, dan kurangnya dukungan terhadap petani lokal telah menggerogoti kesejahteraan mereka. Dalam protes ini, mereka juga membawa papan-papan tulisan berisi tuntutan agar pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan petani dengan meningkatkan harga jual hasil pertanian dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Baca Juga: Satu Warganya Tewas PM Thailand Nyatakan Tak Ada Rencana Genjatan Senjata dengan Kamboja
Kirim Sampah ke Kantor Pemerintah, Simbol Kemarahan Petani
Selain menyemprotkan pupuk kandang, petani juga mengirimkan kantong-kantong sampah ke beberapa kantor pemerintahan dan kantor-kantor partai politik di Jakarta. Sampah-sampah ini dikumpulkan dari berbagai daerah pertanian yang kini terancam gagal panen akibat kebijakan yang tidak berpihak pada petani.
Para petani menjadikan sampah sebagai simbol dari apa yang mereka anggap sebagai “pembuangan” nasib mereka oleh pemerintah. Sampah yang mereka kirimkan bukan hanya sekadar limbah rumah tangga, tetapi juga sampah dari sektor pertanian seperti pestisida kadaluarsa, pupuk tak terpakai, dan produk pertanian yang tidak terjual.
Siti Mariani, seorang petani asal Karawang, yang turut mengirimkan sampah, mengungkapkan, “Kami merasa seperti sampah bagi pemerintah. Mereka lebih memperhatikan kepentingan pengusaha dan negara lain daripada memperhatikan kami, para petani lokal yang setiap hari bekerja keras di ladang.”
Isu yang Memicu Aksi Protes Petani
Tuntutan utama dalam aksi ini adalah terkait dengan beberapa isu yang menghambat sektor pertanian Indonesia. Beberapa masalah yang diangkat oleh para petani selama aksi antara lain:
Harga jual komoditas yang tidak menguntungkan – Petani merasa bahwa harga jual hasil pertanian mereka sangat rendah dan tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat. Kenaikan harga pupuk dan bahan bakar juga menjadi masalah besar.
Impor bahan pangan yang merugikan petani – Kebijakan impor yang masif membuat banyak komoditas pertanian lokal terancam oleh produk impor yang lebih murah. Hal ini menyebabkan penurunan harga dan kesejahteraan petani lokal.
Kurangnya perhatian terhadap fasilitas irigasi dan infrastruktur pertanian – Banyak petani merasa bahwa pembangunan infrastruktur pertanian di daerah mereka sangat minim, terutama untuk irigasi yang mendukung keberlanjutan produksi pertanian.
Kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada petani kecil – Banyak petani kecil merasa bahwa kebijakan yang ada lebih menguntungkan petani besar atau korporasi, sementara mereka terpinggirkan dalam berbagai program bantuan dan subsidi.
Ahmad Firdaus, seorang petani dari Subang, menyatakan bahwa masalah harga jual komoditas pertanian adalah salah satu penyebab utama ketidakpuasan mereka. “Kami menanam padi, jagung, atau sayur, tetapi harga jualnya tidak pernah menguntungkan. Bahkan kadang-kadang kami tidak bisa menutup biaya produksi. Pemerintah tidak pernah hadir untuk membantu mengatasi masalah ini,” ujar Ahmad.
Reaksi Pemerintah Terhadap Protes Petani
Aksi protes yang melibatkan simbol-simbol seperti pupuk kandang dan sampah ini tentu mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah. Namun, reaksi pemerintah terhadap aksi ini cukup beragam.
Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian, menanggapi aksi ini dengan mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi petani. “Kami menyadari bahwa ada banyak masalah dalam sektor pertanian yang harus segera diselesaikan. Kami sedang berusaha mencari solusi untuk meningkatkan harga jual komoditas pertanian dan mengurangi ketergantungan pada impor,” ungkap Syahrul dalam sebuah konferensi pers setelah aksi.
Namun, ada pula pihak yang menilai bahwa aksi yang dilakukan oleh para petani terlalu ekstrem dan tidak membawa solusi konkret. Ketua Asosiasi Pengusaha Pertanian, Budi Santoso, berpendapat bahwa aksi seperti ini bisa merusak citra sektor pertanian dan mengganggu stabilitas politik.
Protes Petani Semprot Gedung Dukungan dari Masyarakat dan LSM
Petani sudah lama menderita, tetapi pemerintah tidak memperhatikan mereka dengan serius. Aksi seperti ini adalah cara agar suara mereka terdengar. Kami mendukung penuh protes ini dan berharap pemerintah segera melakukan perbaikan nyata





